Beberapa tahun terakhir banyak motivator menyuarakan, “ayoo jadilah pengusaha…” kemudian ditawarkan bagaimana caranya resign yang benar. Diajarkan bagaimana membangun sebuah bisnis dan akan menjadi apa setelah melakukan resign dari pekerjaannya.

Secara materi mungkin pekerjaan yang dijalani sekarang telah memiliki sallary yang lumayan dan bahkan tidak jarang bisa dikatakan lebih dari cukup karena yang resign itu kebanyakan mereka yang jenuh ketika berada di Top Level dan serasa dimanfaatkan oleh perusahaan.

Bagi yang mereka resign karena telah mencapai top level tersebut maka akan mudah bagi mereka untuk membuka usaha baru dan hal itu banyak terjadi dan terbukti sukses.

Sekarang, bagi kita yang pas-pasan dan bergantung pada pekerjaan bahkan kalau tidak kerja rasanya tidak dapat berbuat apa-apa untuk dunia ini. Pikirannya terpaku pada pekerjaan, bagaimana pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik dan dapat jempol dari atasan dan rekan-rekan kerja lainnya.

Setiap hari berpacu dengan waktu, bahkan berangkat kerjapun mendahului ayam berkokok. Waktu pulang kerjapun sudah larut malam sehingga tidak ada waktu untuk keluarga.

Dari segi waktu, mereka yang berada di top level, middle ataupun level bawah sekalipun sangat berpacu dengan waktu dan sibuk sekali mengejar dateline setiap pekerjaan. Semoga mereka meniatkan kerja mereka untuk membahagiakan keluarga dan beribadah.

Dengan maraknya himbauan para motivator untuk jadi pengusaha, tidak sedikit diantara mereka yang resign dan membuka usaha sendiri. Ada yang benar-benar serius dan memiliki bekal modal dan ilmu sehingga berhasil menggebrak pasar dan “membayar lunas” resignnya dengan sesuatu yang bernilai. Inilah mereka yang benar-benar mempunyai nyali dan naluri sebagai pengusaha. Mereka seakan-akan lepas dari sarang selama ini mengurung hasrat dan impian mereka menuju puncak karir sesungguhnya.

Tapi, bagaimana dengan kawan kita yang resign karena ikut-ikutan dan terbakar sesaat oleh ajakan motivator..?? Mereka kebingungan. Bahkan ada yang mengatakan “saya ini tidak bisa mencari peluru dan menembakkannya sendiri. Saya terbiasa dengan peluru yang dikasi dan disuruh menembakkan kearah yang telah ditentukan.

Kawan kita ini akan merana. Apabila tidak dilandasi dengan iman yang kuat, mereka akan frustasi dan mengeluhkan mengapa begini dan begitu. Dan pada akhirnya mereka kembali mencari kerjà lagi dan ngaryawan lagi.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika memutuskan untuk jadi pengusaha.

1. Pastikan anda resign bukan karena ketidak nyamanan dalam bekerja.
Saat anda mulai bekerja disebuah perusahaan atau instansi atau yang lainnya, anda datang sendiri tanpa paksaan dari pihak penerima anda bekerja. Perusahaan hanya menawarkan dan anda yang memutuskan. Anda yang memilih bekerja disana, jadi segala sesuatu yang terjadi didalam nanti, itu semua haruslah sudah anda ketahui sebelum anda memilih untuk bekerja disana.
Ada memang yang diminta untuk bekerja, tapi setiap keputusan ada ditangan anda. Anda harus sudah tau dengan resiko anda bekerja disana seperti apa.
Ketika anda mencari kenyamanan, berarti anda tidak siap dengan resiko. Karena setiap pekerjaan mempunyai resiko yang berbeda-beda.

2. Pastikan cara resign anda benar.
Banyak orang terbakar semangatnya karena ajakan jadi pengusaha. Karena semangatnya mereka lupa tata krama dan tidak menghargai atasannya ditempat ia bekerja. Ada yang sengaja mencari masalah dan berharap dikeluarkan dan pesangon. Ini sama halnya anda adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Ketika anda bermental seperti ini, maka usaha apapun yang anda lakukan anda sulit untuk berhasil. Berhasilpun anda akan berlaku culas.
Ibarat anda bertamu kerumah saudara anda. Ketika datang anda haruslah dengan muka yang jernih, niat silaturrahim dan ketika akan pulangpun harus seizin yang punya rumah, jangan menghilang tanpa pamit karena itu adalah cara yang tidak benar. Kasarnya itu adalah cara maling. Kata ungkapan minang, “tibo tampak muko, pulang tampak pungguang” (datang kelihata  muka, pulang kelihatan punggung).
Ketika anda ingin resign, hal penting yang harus anda ingat adalah nama baik. Jaga nama baik anda. Karena itu bakal jadi modal baik untuk usaha anda nantinya.

3. Telah siap dengan ranting selanjutnya.
Ada sebuah ungkapan, “jangan lepaskan tangan kiri anda sebelum tangan kanan anda mendapat pegangan.”
Kata orang minang, Alam Takambang Jadi Guru. Alam telah mengajari kita berbagai hal hanya kita sering tidak menyadarinya.
Pernahkah anda melihat monyet?? Kenalkah anda dengan dia?? Kalau anda kenal, berarti anda adalah orang yang luar biasa…hehehe (maaf saya kadang suka bercanda walau rada garing sih..hehe…)
Monyet, ketika melompat dari satu ranting ke ranting lain dia telah pastikan tangan kaki nya sudah siap untuk menjangkau dan memegang ranting berikutnya. Mustahil monyet melompat lalu tangan kakinya diam tidak mengejar ranting berikutnya. Jika begitu maka monyet akan jatuh. Dan kemungkinan besar akan cedera..
Anda, anda tentu lebih hebat dari itu. Anda punya banyak sekali kelebihan yang bisa dijadikan modal untuk melakukan sesuatu yang lebih dahsyat. Karena potensi yang dimiliki manusia itu luar biasa sekali.
Nah, ketika anda sudah putuskan untuk resign, anda harus fokus dan total dengan rencana-rencana yang telah anda susun. Apalah jadinya ketika anda resign, anda tidak ada pekerjaan sama sekali. Itu namanya resign yang konyol.
Setelah persiapan matang, lakukanlah sesuai dengan apa yang telah anda rencanakan. Tapi ingat, pengusaha itu tidak harus baku dengan aturan bahwa a itu harus diawal dan z itu diakhir. Bisa saja s diawal dan a diakhir. Itu berlaku sesuai kebutuhan anda.

Demikian penjelasannya mengapa anda tidak boleh coba-coba jadi pengusaha. Bukankah aeauatu yang dilakukan secara totalitas itu hasilnya juga maksimal..??

Saya kembalikan kepada anda, jalan apa yang akan anda tempuh. Jangan tergoda karena setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kukurangan nya masing-masing. Dan ingatlah, rezeki itu sudah diatur dan ditetapkan kadarnya. Tidak akan tertukar, hanya saja ada yang memaksimalkan potensinya tersebut, ada yang lagi berusaha memaksimalkan dan ada yang tidak memaksimalkan sama sekali.

Selamat mencoba, semoga mental pengusaha yang ada dalam diri anda terbakar lagi dan dimanfaatkan dengan benar untum kemaslahatan dan selalu menebar kebermanfaatan.

Wassalam..

Advertisements