Aku dibesarkan disebuah kampung nan asri.
Masa kecilku senang berkelana menjelajahi semak-semak. Kadang ku bermain dengan kumbang yang telah kuikat kakinya dengan tali dan kusuruh memanjat pohon-pohon yang menjulang.
Bermain lumpur adalah kegemaranku ketika berada disawah. Berkejar-kejaran ditengah lumpur sawah yang mau ditanami pun menjadi kebahagiaanku. Bahkan makan dipinggiran sawah dibawah rumpun bambu yang berderik seolah-olah bernyanyi ditiup anginpun tak akan kulupakan.
Sungai adalah kolam renang favoritku dan alam mengajariku pandai berenang. Pernah suatu ketika musim kemarau panjang, warga berbondong-bondong pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci. Ketika itu aku belum bisa berenang, hanya duduk dipinggiran sungai sembari kubelajar bagaimana cara mengapung diatas air.
Keinginanku untuk biaa berenang tinggi, tapi aku tak mau minta diajari karena semua sibuk dengan permaianannya masing-masing. Pada akhirnya aku mendapat ilmu mengapung diatas air.
Akupun melihat orang-orang yang melintasi sungai dengan jalan kaki. Kuperhatikan seberapa dalamnya air tersebut. Dan aku menemukan tempat untuk mempraktekan ilmu mengapung yang baru saja kudapat.
Disebuah belokan  sungai, aku berjalan keseberang dan mengapungkan tubuhku mengikuti arus hingga sampai diseberang. Begitu seterusnya ssmpai akhirnya kumulai berani ketempat yang lebih dalam dan aku bisa.

Ketika malam sehabis magrib ibuku mengajariku mengaji yang bertemankan nyamuk dengan sorot lampu minyak dengan semprong yang membuat hitam bulu hidungku. Tapi disitulah nikmatnya dan disitulah aku diajari membaca Al-Quran. Bahkan prestasiku disekolah bisa kuraih bertemankan malam dengan lampu itu hingga kelas 4 SD.

Pernah ketika aku akan masuk sekolah, kakakku pulang dari rantau. Jujur waktu itu aku tidak tahu aku mempunyai saudara berapa. Yang kutahu waktu itu aku keseharian bersama dengan 4 saudaraku yang ternyata aku mempunyai saudara 8 orang dan aku yang kesembilan.
Kakakku yang pulang dari rantau itu berkata, “i, tau habibi ga?” Lah boro-boro habibi, yang ngomong aja aku ga tau…hehe… ya mungkin waktu itu aku hanya hidup untuk bermain, bermain dan bermain.
Tapi omongan itu aku takkan lupa, mungkin itulah awal memoriku mulai agresif dengan sikap penasaran walau aku cuek dan sedikit membangkang tapi tetap sopan.
Hingga saat ini, aku ngefans bangat sama pak habibi. Karena waktu itu disebutkan kalau pak habibi itu kecil seperti halnya aku yang kecil juga, tapi mempunyai intelijen dan kecerdasan luar biasa.

(Bersambung…..)

Advertisements