HIjrah merupakan sebuah proses perpindahan. Baik itu perpindahan dari perbuatan buruk ke baik, pindah tempat tinggal ataupun pindah dalam hal yang lainnya. Yang jelas, hijrah harus diartikan sebagai suatu perpindahan dari yang semula nya baik menjadi lebih baik.

1434 tahun yang silam, Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah untuk mengembangkan islam kesana dan itu adalah perintah dari ALLAH SWT.

Di Minangkabau, hijrah tersebut sekilas dapat diartikan sebagai Merantau. Banyak orang Minang itu yang pergi merantau dari satu daerah ke daerah lain. Tak lain dan tak bukan tujuan mereka adalah untuk merubah kehidupan mereka. Seperti sebuah pepatah Minang, “Karatau Madang dihulu babuah babungu balun, marantau bujang dahulu dirumah paguno balun”.

Maksud dari pantun tersebut adalah seperti yang copas dari http://www.cimbuak.net/content/view/809/5/1/3/

Marantau bujang dahulu, dirumah baguno balun. Pantun ini diarahkan kepada orang laki-laki muda (bujang), yang memutuskan untuk pergi merantau karena dikampungnya belum dipergunakan. Yang dimaksud dengan =baguno balun=, adalah belum diperlukan sebagai pasangan hidup oleh wanita, atau belum bisa kawin, kerena belum mempunyai pekerjaan atau menghasilan tetap. Pada umumnya pemuda Minang akan memilih merantau untuk mencari penghasilan atau bisa juga untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, agar bisa mendapatkan status yang lebih baik.
Salah satu sebab mengapa mereka memilih merantau, sebab status anak laki-laki di Minang yang pada dasarnya tak punya apa-apa. Dia bias berusaha dikampungnya diatas harta pusaka yang ada, akan tetapi harta itu jatuhnya kepada anak yang perempuan. Anak laki-laki tak akan dapat mewariskan harta itu untuk anaknya sendiri, sebab anaknya itu adalah suku lain atau orang lain. Kalau dia mau membuka usaha  ditanah ulayat, yang bebas dilakukan hanyalah menanam tanaman muda, tapi kalau menanam tanaman tua yang berarti memakai secara permanen, akan banyak persoalan.
Seorang lelaki Minang hanya akan memiliki dasar hukum yang kuat bila berusaha diatas tanah yang dia beli , jelas dia berkuasa disitu dan bias diwariskan kepada anaknya. Akan tetapi membeli tanah di Minangkabau tidaklah mudah. Sebab status tanah adalah milik bersama, tanah ulayat, jadi yang menjual tanah itu adalah banyak orang. Sementara kalau membeli tanah dirantau orang, tidak banyak prosedur, asal ada uang.

Ini jualah yang menjadi dasar untuk saya meninggalkan kampung halaman yang sangat dicintai dan hasrat yang besar mambangun kampuang, walau berat hati meninggalkan orang tua yang sanga dicintai, tapi ini demi masa depan anakmu jua wahai ayah dan bunda ku tercinta, hanya dengan doamu yang tulus yang bisa membuat aku berdiri tegak disini. Semoga nanti dapat berguna bagi keluarga, agama, kampung halaman dan negara ini. aamiin….

Advertisements